Klarifikasi permasalahan Mobil Listrik Tucuxi yang melibatkan 2 doktor dari UGM

2 Comments


Catatan tentang Molina -- sedikit bantuan untuk ikut meluruskan ketidakbenaran berita

by Lukito Edi Nugroho on Sunday, January 6, 2013 at 6:06pm ·
Hari-hari ini di media sedang ramai dibicarakan tentang mobil listrik Tucuxi-nya pak Dahlan Iskan. Dari tongkrongannya yang mirip dengan Ferrari, sampai saat dibawa ke Solo untuk dijamasi dengan air kembang oleh Ki Manteb Sudarsono, dan akhirnya saat

mengalami kecelakaan sewaktu uji coba di daerah Magetan, Jawa Timur. Semua berita itu menarik banyak komentar dari berbagai aspek. Saya tergugah untuk menulis catatan ini setelah muncul berita adanya konflik antara Dr. Danet Suryatama sebagai pemilik teknologi yang diimplementasikan di Tucuxi dengan tim pak Dahlan Iskan. Dalam pemberitaan media, sering dituliskan tim pak Dahlan Iskan (DIS) membongkar mobil itu dan dituduh ingin menjiplak teknologinya. Dan trigger ketergugahan saya adalah saat UGM dan dua rekan saya, Dr. Jayan Sentanuhady dan Dr. Eka Firmansyah dikaitkan dalam pemberitaan itu dalam konotasi yang negatif.

Saya ambil contoh berita yang seakan menyudutkan UGM dan kedua staf pengajar tersebut. Berita ini diambil dari link http://www.merdeka.com/uang/pencipta-tucuxi-tersinggung-dahlan-minta-ugm-bongkar-mobilnya.html.


Kedua berita tersebut seolah menempatkan UGM sebagai bagian dari tim pak DIS dan membongkar Tucuxi untuk dijiplak teknologinya. Sepengetahuan saya, bukan seperti itu keadaannya. Saya kebetulan mengikuti kegiatan-kegiatan pengembangan mobil listrik di UGM karena jabatan saya. Saya juga sering berdiskusi dengan Dr. Eka Firmansyah tentang hal-hal yang terkait dengan permobil-listrikan di tingkat nasional. Dalam catatan kali ini saya akan coba kompilasi penjelasan Dr. Eka Firmansyah dan di sana-sini saya tambahi dengan penjelasan tambahan, untuk memberikan pandangan yang seimbang terhadap berita-berita yang berkembang di media.

Terkait dengan dunia permobil-listrikan di Indonesia saat ini, ada dua tim mobil listrik yang aktif. Satu adalah tim Mobil Listrik Nasional (Molina) yang dibentuk oleh Presiden RI sejak bulan Juli 2012. Dewan penasehatnya adalah Mendikbud dan diketuai oleh Prof Ahmad Jazidie. Anggota tim ini (untuk selanjutnya saya sebut tim Molina-Dikbud) diambil dari lima universitas (UI, ITB, UGM, UNS, ITS) ditambah BPPT dan LIPI. UGM diwakili oleh Rektor dan Dekan Fakultas Teknik, sementara Dr. Eka dan Dr. Jayan mewakili UGM sebagai tim kerja.

Di sisi lain, ada Meneg BUMN yang memiliki agenda sama. Pak DIS membentuk tim Pandawa terdiri dari Dr. Danet Suryatama, Ricky Elson, Mario (pemilik merk Betrix), Ravie, dan Dasep Ahmadi. Tim ini tidak memulai program mobil listrik dari nol, tapi bekerja dengan cara mengakselerasi inisiatif-inisiatif yang sudah ada sebelumnya (ada yang sudah berbentuk prototipe).

Kedua tim ini bekerja terpisah meskipun memiliki tujuan yang sama. Hal ini lebih disebabkan karena alasan-alasan teknik pencapaian tujuan yang tidak sama. Tim Molina-Dikbud mengutamakan langkah-langkah yang lebih terstruktur, sedangkan Tim Pandawa melakukan langkah-langkah cepat.

Bagi tim Molina-Dikbud, tahun 2012 adalah tahun pertama program. Fokusnya adalah riset, kajian, dan persiapan menuju tahap kedua tahun 2013. Sampai hari ini tim Molina-Dikbud belum menghasilkan prototype apapun. Di UGM, pada tahun 2012 tim ini baru melaksanakan 9 paket riset teknologi yang nanti akan diterapkan pada mobil listrik yang akan dibuat. Sebaliknya, pada tahun yang sama tim Pandawa sudah meluncurkan mobil hijau buatan Dasep Ahmadi, taksi konversi dan Timor Konversi dari Ravie, Betrix dari Mario, dan Tucuxi oleh Danet Suryatama. Dari sini saja terlihat jelas perbedaan strategi pengembangan yang diambil oleh kedua tim.

Tucuxi dimanufaktur di Kupu-Kupu Malam (KKM) Yogyakarta, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang modifikasi mobil. Dalam proses manufaktur Tucuxi, beberapa kali KKM memerlukan nasihat-nasihat teknis (engineering advices), dan karena KKM sudah memiliki hubungan baik dengan Dr. Jayan, maka naturally KKM sering bertanya kepada Dr. Jayan (dan akhirnya juga kepada Dr. Eka untuk masalah kelistrikannya).

Pada akhirnya terjadilah hubungan konsultatif secara informal antara pihak KKM dengan dua staf pengajar Fakultas Teknik UGM tersebut. Disebut informal karena tidak ada perjanjian apapun. Tidak ada MoU atau kontrak apapun antara UGM dengan KKM, atau bahkan dengan institusi pak DIS sekalipun. Proses-proses konsultasi ini berlangsung secara spontan (tidak sistematis dan terjadwal) dan tidak berada dalam kerangka proyek pembuatan Tucuxi. Saat mengalami kesulitan, KKM bertanya dan dua dosen tersebut menjawab. Sesederhana itu, seperti layaknya jika keduanya ditanya oleh mahasiswa di kampus. Kedua dosen FT UGM tersebut mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari KKM karena yang ditanyakan memang menjadi bidang kajian keduanya.

Menurut Dr. Eka, dalam pertemuan-pertemuan konsultasi itu, dia dan Dr. Jayan tidak sedikitpun melakukan proses bongkar membongkar, foto memfoto, dan catat mencatat. Mereka tidak terlibat dalam proses pembongkaran Tucuxi seperti halnya banyak diberitakan di media. Pada poin inilah klarifikasi terhadap pemberitaan media harus dilakukan. Tidak ada usaha pembongkaran, apalagi penjiplakan teknologi, yang dilakukan oleh kedua staf dosen tersebut. Kalaupun ada tuduhan dari Dr. Danet ke timnya pak DIS (khususnya KKM), itu murni urusan mereka dan dua dosen FT UGM tersebut tidak ada kaitannya sama sekali. Secara personal saya kenal baik dengan pak Jayan dan pak Eka, dan saya yakin mereka masih punya cukup dignity untuk tidak melakukan hal-hal yang tabu dalam dunia akademik (i.e., mencuri/menjiplak teknologi milik orang lain).

Tim Molina-Dikbud, khususnya yang bekerja di UGM, memiliki agenda sendiri yang sama sekali tidak terkait dengan agenda tim Pandawa. Mereka telah mengembangkan roadmap pengembangan mobil listrik nasional termasuk tahapan-tahapan yang harus dijalankan, lengkap dengan luaran (output) yang diharapkan dan kerangka jadwalnya. Platform yang digunakan adalah model city car 4-seater, dan ini jelas berbeda dengan model sport yang menjadi platform Tucuxi. Dengan fakta-fakta ini, semakin jelas bahwa track tim Molina-Dikbud UGM memang berbeda dibandingkan dengan track timnya pak DIS, sehingga menjadi tidak logis jika dinyatakan ada anggota tim UGM yang ikut terlibat dalam kegiatan pembuatan/penyempurnaan mobil Tucuxi.

Pada akhirnya kita berharap inisiatif mobil listrik nasional ini dapat berjalan dengan lancar. Biarlah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya bekerja dengan fokus dan tenang. Janganlah mereka diganggu dengan hal-hal yang tidak perlu. Jika muncul gangguan, sudah menjadi tugas kita untuk membantu mereka meminimalkan efek gangguan tersebut.

Update: Dr. Jayan dan Dr. Eka telah membuat press release terkait hal ini, dan telah dimuat di detik.com. Linknya: http://oto.detik.com/read/2013/01/06/144111/2134348/1207/dituduh-terlibat-pembongkaran-tucuxi-ini-tanggapan-dosen-ugm?991104topnews.

Unknown

Blog ini merupakan media yang menampung berbagai gagasan dan curahan perasaan saya. Silahkan bagikan jika anda menganggapnya baik dan berikan kritik jika anda menemukan hal yang dapat saya perbaiki. Saya harap pembaca bisa bersikap kritis dalam membaca blog ini. Terimakasih telah berkunjung.

2 comments:

  1. setuju gan, kebnayakan orang sirik di republik ini...nanya juga gan kok harga mobil listriknya mahal bgt dibanding mobil yg pake bbm????

    ReplyDelete
  2. iya mas.
    kalau soal harga mungkin karena teknologinya masih baru mas.
    terimakasih telah berkunjung
    :)

    ReplyDelete